Wednesday, April 11, 2007

Harga Sebuah Kepercayaan

Agak berat juga ya judul yang saya kasih buat catatan kali ini…Tapi sebelumnya ada satu pertanyaan buat kita. Apakah kalau kita diberikan suatu kepercayaan oleh seseorang, kemudian kita menjadi bangga dengannya? Ataukah kalau kita diberikan sebuah kepercayaan kita merasa bahwa itu merupakan suatu beban yang harus dipertanggungjawabkan?

Yang tahu jawabannya adalah diri kita masing-masing. Tapi apapun jawaban kita, keduanya akan memberikan sebuah konsekuensi yang berbeda. Kalau kita bangga dengan kepercayaan yang telah diberikan kepada kita, ada baiknya kita berhati-hati dengan itu semua. Mengapa? Sebab, dengan kebanggaan yang kita rasakan, jika kita tidak mampu mengontrol diri, maka kepercayaan itu akan menjadi bumerang bagi diri kita.

Seseorang yang menganggap kepercayaan itu sebuah kebanggaan, secara tidak sadar menanamkan rasa kesombongan dan keangkuhan dalam dirinya. Sehingga suatu saat pasti pasti akan terjerumus dalam kebanggan itu. Kalau sudah muncul rasa angkuh dan sombong, maka ia akan meremehkan hal-hal kecil yang tidak dianggap penting. Padahal kekokohan suatu bangunan adalah dimulai dari bawah, dari hal-hal terkecil.

Kebanggaan dan keangkuhan itu semakin membuatnya ceroboh dan tidak hati-hati dalam melakukan berbagai tindakan. Tak ayal lagi, kepercayaan yang seharusnya dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan baik malah dibuat main-main dan diremehkan. Dari sini berapa harga kerpercayaan itu?!!

Sedangkan bagi kita yang menganggap sebuah kepercayaan adalah sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan, maka diri kita adalah termasuk orang-orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak. Dan orang yang berhati-hati dalam setiap tindakan yang ia lakukan, niscaya akan menjadi orang-orang yang selamat.

Namun demikian, kalau kita mau jujur, sebenarnya dalam setiap kepercayaan yang diberikan kepada kita, pastilah dalam benak dan perasaan kita muncul sebuah kebanggaan. Tapi di sisi lain juga muncul perasaan terbebani dan tanggungjawab kepada pemberi kepercayaan. Dari dua kondisi itu, tinggal bagaimana kita mau menyikapinya dengan arif, cerdas, dan tentunya akan tetap terjaga rasa kepercayaan tersebut.

Kalau kita terbenam dengan rasa bangga yang berlebihan, tunggulah saat-saat kehancuran kita. Tidak akan ada lagi orang yang akan mempercayai kita dalam tiap kesempatan. Sedangkan kalau kita mampu mengendalikan rasa bangga itu dan menjadikannya sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan, kepercayaan orang lain terhadap kita akan terus terpelihara.
Kini hanya kita yang bisa menjawab, berapa harga sebuah kepercayaan bagi kita?

Posted by opix at 03:42:38 | Permalink | No Comments »

Saturday, April 7, 2007

Mempercayai Diri Sendiri

Dalam menapaki jalan yang penuh liku ini, kita banyak dihadapkan pada persoalan yang terkadang sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya. Sesulit apapun permasalahan yang kita hadapi, sebenarnya semua telah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita sebagai seorang makhluk Allah. Karena Dia telah menyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa manusia diberikan sebuah ujian disesuaikan dengan kadar kemampuannya, tidak lebih.

Oleh karena itu, kalau kita memiliki permasalahan, sebenarnya kita dapat menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain, psikolog atau yang lainnya. Kita adalah orang yang paling tahu terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi dan paling memahaminnya. Namun kebanyakan dari kita tidak pernah menyadarinya. Kita sudah terlarut dan terbawa dalam emosi serta aroma permasalahan yang timbul, sehingga hati kita benar-benar tertutup untuk bangkit dan menuntaskannya.

Banyak orang yang salah dalam menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi. Tak jarang mereka malah terjerumus pada sebuah penyelesaian yang salah. Itulah karena kita tidak bisa mempercayai diri sendiri, kita sudah kehilangan rasa kontrol diri. Padahal dengan mempercayai diri sendiri, kita tidak akan mudah tertipu dengan bujukan-bujukan yang bisa menjerumuskan diri kita.

Kalaupun kita membutuhkan orang lain, itu hanya sebagai bahan buat kita, dan semuanya tergantung dari kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kalau kita yakin terhadap diri sendiri, maka tak akan ada lagi persoalan yang terasa rumit untuk kita. Namun, tetap dengan diiringi dengan doa lho, sebagai bukti bahwa kita adalah manusia yang beragama dan tetap membutuhkan pada kekuasaan Sang Pencipta.

Memberikan yang terbaik buat kehidupan adalah kewajiban….

Posted by opix at 04:30:12 | Permalink | No Comments »

Proses Menuju Kedewasaan (2)

Menuju kedewasaan adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Sebab, semakin dewasa seseorang, semakin besar pula tanggungjawab yang harus diemban. Tidak semakin ringan. Namun demikian, mau tidak mau kita harus melewati dan menjalaninya. Dan pada masa itulah ketahanan, cara pandang, pola berpikir, serta tindakan kita diuji untuk mengetahui seberapa kita mampu menjalani alur kehidupan ini.

Memang, fitrah manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan-kekurangan. Meskipun kita dapat sebutan—atau paling tidak derajat yang lebih mulia dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain, kita juga tak dapat memungkiri atas kelemahan diri kita. Sehebat apapun manusia itu, pasti di sisi lain pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Dari sinilah, mampukah kita menghadapi kelemahan kita dengan sadar, lapang dada dan mau menerima kelemahan-kelemahan itu serta tidak pernah putus asa untuk mengubahnya agar lebih baik?!!

Berpikir arif dan bijak dalam menghadapi semua kelemahan dan kekurangan diri kita sangat diperlukan. Tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali atas kemauan dan tekad besar kita. Orang tua, saudara, suami / istri, anak, atau siapapun tidak akan pernah dan tidak akan bisa membuat kita menuju arah kedewasaan tersebut tanpa usaha diri sendiri, tentunya dengan usaha mendekatkan diri dan berdoa kepada Tuhan. Mereka hanyalah salah satu pemacu rasa tersebut.
Sejalan dengan itu semua, diri kita juga mempunyai potensi-potensi yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kekuatan potensi itu, sebenarnya ujian bagi kedewasaan kita juga. Mampukah kita mengembangkan, memanfaatkan dan memberikan nilai positif dari potensi-potensi yang kita miliki itu buat diri sendiri, orang lain dan lingkungan tempat kita berpijak untuk menjalani kehidupan ini?!!

Kalau kita pikir, Tuhan sangat begitu percaya dengan kita, manusia. Walaupun dalam banyak hal dan kalau sempat kita kalkulasi antara kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia, pastilah banyak keburukan yang telah dilakukan. Berbagai tindak keburukan baik yang terlihat, terasa, tercium, teraba, terdengar oleh panca indera kita maupun segala keburukan yang tak pernah terpantau, karena kelemahan panca indera kita juga, dan dari segala keburukan mulai tingkatan sekelas ikan teri sampai sekelas ikan kakap yang telah kita lakukan, Tuhan masih dan masih terus mempercayai kita. Kalau sudah begini, tidak malukah kita kepada-Nya? Tidak takutkah kita kepada-Nya atas kebohongan-kebohongan yang kita perbuat, padahal kita juga tahu kalau Tuhan tidak bisa dibohogi?!

Waduh…Memang sulit memahami perilaku manusia. Mereka yang kadang baik bisa sebaik malaikat, tapi kalau sudah mucul sifat kebinatangannya, mereka tak lebih hanya setara bahkan di bawah saudara satu spesiesnya itu. 
Sebagai manusia yang diciptakan dari setetes barang menjijikkan dan hina, namun kemudian dijadikan sebagai makhluk yang mulia, yang diberi akal dan hati nurani, seharusnya kita bisa merenungkan asal kejadian kita tersebut. Hina, menjijikkan kemudian diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin makhluk di dunia dengan segala potensi yang tidak dimiliki makhluk ciptaan Tuhan yang lain, seharusnya kita sadar dan segera bangun dari segala kesombongan yang membutakan, itulah sikap yang seharusnya kita miliki. ^_^

Posted by opix at 04:26:09 | Permalink | No Comments »

Wednesday, April 4, 2007

Help me..

Aduh…komputer ku kacau, gara-gara virus yang menamakan dirinya dengan BLUE FANTASY. Saya akui anda pembuat sang virus ini pandai, tapi alangkah baiknya kalau anda gunakan untuk hal yang positif gitu…Wah emang ga’ habis pikir sih, kenapa juga tangan anda dikotori dengan mengganggu kenyamanan orang lain. Emang virus yang anda buat itu ga sampe merusak file dan data-data saya. Tapi keberadaannya sudah sangat mengganggu. 

buat sobat yang punya tips buat ngilangi virus ini saya tunggu bantuannya, coz dah saya coba berkali-kali untuk menghilangkannya, tapi belum berhasil. Thanks sebelumnya, en buat yang bikin virus moga tobat dech… 

Posted by opix at 06:42:55 | Permalink | No Comments »

Proses Menuju Kedewasaan

<img align=”left” src=”http://amadeo.blog.com/repository/840367/1881208.gif />Tiap manusia pasti akan melalui tiga proses kehidupan ini, yaitu : lahir, tumbuh dan mati. Dari lahir sampai menuju kematian tersebut manusia akan melewati beberapa tahap kehidupan yang kesemuanya memiliki proses berbeda-beda. Proses kelahiran merupakan tahap awal manusia mengetahui alam dunia yang penuh hiruk pikuk dan tipu daya ini. Kemudian, ia akan tumbuh menjadi kanak-kanak, yaitu masa yang menurut sebagian besar orang sangat menyenangkan. Kita masih belum memiliki tanggungjawab, beban, atau pun seabrek persoalan hidup ini. Sebagian besar waktu, kita gunakan untuk bermain, bercanda, belajar bersama teman-teman sebaya tanpa ada beban. Sungguh sangat menyenangkan kalau ingat masa kanak-kanak dulu, meskipun dapat kita pahami tidak semua anak dapat menikmati masa kanak-kanaknya dengan berbagai aktifitas seperti itu. Namun, tidak seorangpun yang menyangkal bahwa memang masa itu adalah masa dimana seseorang belum memiliki segala tanggungan hidup.

Setelah proses kanak-kanak, manusia juga melalui proses –yang dapat disebut masa transisi—dalam bahasa manusia, disebut remaja. Pada masa inilah, manusia banyak mengalami dilema, konflik intern, dan banyak hal yang sebagian besar dari manusia dalam proses ini belum bisa mengatasi problem mereka dengan baik, walaupun mereka sudah sedikit banyak mampu untuk memilah dan menyaring permasalahan yang ada. Pada masa transisi inilah manusia terus mencoba berbagai hal yang belum pernah dilakukannya, rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap susuatu. Kalau mereka tidak memiliki iman yang kuat, maka tak ayal lagi ia bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Inilah yang harus diwaspadai oleh setiap inidividu dan para orang tua dalam mendidik anaknya. Proses ini juga—kita sering menyebutnya—sebagai proses pencarian jati diri. Entah apa yang di maksud dengan pencarian jati diri ini? Namun, kenyataan di masyarakat mereka yang memasuki usia ini, memang belum sepenuhnya memiliki tanggungjawab dan mampu bertanggungjawab. Keadaan selama masa kanak-kanak masih sangat berpengaruh besar terhadap pola pikir mereka. Tapi, mereka juga tak mau dikatakan anak kecil…! Repot juga. Disinilah orang tua harus bijak mengarahkan anak-anaknya.

Masa kanak-kanak dan remaja telah terlewati. Menujulah ia ke masa kedewasaan. Bagaimana seseorang dapat dikatakan dewasa? Apakah ia orang yang sudah berumahtangga dan mempunyai anak banyak? Apakah ia orang yang sudah berumur tua, tiga puluh atau empat puluh tahun ke atas? Ataukah mereka yang memiliki sederet gelar akademis dari berbagai universitas?
Sebenarnya saya sendiri pun tak dapat menjawab dengan pasti. Tapi menurut saya, kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari berbagai kriteria yang disebutkan di atas. Dewasa tidak harus dia sudah berumahtangga dan memiliki banyak anak. Dewasa tidak harus orang yang sudah berumur. Dewasa tak harus orang yang memiliki sederet gelar akademis.

Dewasa adalah mereka yang mampu berpikir bijak, arif dan berpandangan ke depan. Ia mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsi dan porsinya masing-masing. Dewasa adalah mereka yang mampu memahami jalannya kehidupan ini. Karena manusia tidak hanya hidup, tapi mengarungi kehidupan. Dan mengarungi kehidupan lebih susah ketimbang hanya bertahan hidup. Mereka yang dewasa akan selalu memikirkan kehidupan ini, kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Serta kehidupan seluruh alam semesta dan lingkungan. Manusia yang berumur belum tentu dapat berpikir dewasa, bahkan kadang-kadang mereka bisa berbuat lebih tolol daripada mereka yang berada di bawahnya.

Kedewasaan tidaklah datang dengan sendirinya. Ia akan datang jika manusia mau memahami arti kehidupan ini. Mereka yang mau belajar dan belajar untuk memahami dan mengerti setiap kejadian yang menimpa dirinya, saya yakin kedewasaan sikap, pola pikir, tingkah laku, wawasan dan pengambilan keputusan akan ada pada pribadinya. Sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini mampu untuk menjadi dewasa? Sampai dimanakah kita bisa memaknai tiap kejadian yang menimpa kita? Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, memang sulit untuk bisa mencapai itu semua. Namun, sepanjang usia masih tersisa berusaha untuk mencapai kedewasaan itu adalah jalan terbaik. Semoga bermanfaat…!

Posted by opix at 05:52:21 | Permalink | No Comments »

Monday, April 2, 2007

Salam Kenal…

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam kenal buat semua…!
Ini pertama kalinya saya membuat blog ini…he…he…he…ketinggalan jaman baget dech…. :)
Tapi berawal dari sini saya mencoba merambah dunia yang dapat dikatakan begitu luas, kadangkala juga bisa menjadi begitu sempit. Waduh…emang dasar manusia, ga pernah ada puasnya, kalo saya bilang. Tul ga’?
Kembali pada semua hal yang berhubungan dengan dunia ini, yang sudah saya katakan sebelumnya, kadangkala terasa amat luas hingga dalam pikiran kita terasa tidak akan pernah dapat mengetahui semuanya–tapi emang kebanyakan seperti itu ci–tapi kadangkala terasa amat sempit, sempiiit banget hingga kita merasa gerah berada di dalamnya, dan maunya tu pengen banget keluar angkasa sana, ato kalo pengen lebih ekstrem lagi pengennya malah koit aja dari ni dunia. Ih…ngeri deh kalo ampe punya pikiran kayak gitu.
Emang itulah kenyataan yang akan, sedang, atau sudah kita lalui. Semua manusia pasti mengalami itu (ngomong apaan ci….dari tadi koq muter-muter aja, ga’ paham tau??!). Begini, smua pasti dah ngerasain hidup (ya iyalah…emang lu yang nulis ini pa ga idup?!), maksud ana dalam hidup ini pastilah ada dua sisi yang berlainan dan bertolak belakang. Ada baik vs buruk, ada ganteng vs buruk juga and ada cantik vs buruk lagi….hehehe. yach kuranglebih gitulah maksud aku. Semua pasti dah pernah ngalamin hal-hal yang nyenengin, agak nyenengin ato sangat, sangat nyenengin. Atau bahkan merasakan hal yang amatttttttttttttttt menyakitkan. Aku yakin semuuuuaa pasti pernah ngalaminnya, ya ga’?
Oleh sebab itu, saya nulis ini, buat saya sendiri khususnya, dan orang lain yang mau baca tulisan ini tentunya. Semoga bermanfaat…!
Saya punya pengalaman dari beberapa teman yang pernah mempunyai masalah mengenai kehidupannya, ada yang masalah keluarga, pacar, suami ato istri, dan banyak macem yang lain. Emang semuanya begitu kompleks kalo dipikir dengan akal saja. Di sinilah saya mau meguraikan sedikit yang ada dalam diri manusia, yaitu HATI.
Manusia dilahirkan ke dunia ini dengan fitrahnya sebagai manusia suci, fitrah yang memiliki kepribadian baik, positive thinking dan seabrek potensi positive lainnya. Namun, dalam perjalanan hidup yang penuh liku, semua potensi positif yang ada dapat teracuni oleh berbagai hal negatif selama menempuh perjalanan hidup ini. Dari pengalaman beberapa teman itulah saya menemukan betapa berharga dan sangat ampuhnya senjata yang bernama hati ini.
Dari teman-teman itulah saya–saat ini dan untuk seterusnya–belajar, belajar dan belajar untuk memahami pengaruh hati ini terhadapa segala aspek hidup yang saya jalani. Dan selama saya memperoleh cerita dan pengalaman dari rekan-rekan itu, dapat saya simpulkan, betapa berat dan rumitnya suatu masalah, kuncinya ada pada diri kita sendiri. Kita yang mengetahui masalah itu, bukan orang lain, dan kitalah yang bisa meraba, menganalisis, dan untuk akhirnya mengakhiri semua persoalan yang sedang kita hadapi. Ya…hanya satu kunci semuanya, dengan kejernihan hati, kejernihan pikiran, semuanya Insya Allah dapat kita atasi. Karena hati adalah letak segala kebenaran, disanalah hakikat kebenaran yang Sesungguhnya berada.
Kita mungkin pernah melakukan banyak kebohongan. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiri pun, kita bahkan sering melakukannya. Disaat seperti itulah sebenarnya hati kita terus menerus mengingatkan, menolak, dan menentang aktivitas yang kita perbuat tersebut. Namun, dengan bermacam alasan yang kadang kala sangat tidak beralasan, kita mencoba menipu diri kita sendiri. Kita sering, bahkan hampir tidak pernah mendengarkan suara hati kita yang menjerit keras, menjerit dengan semua kemampuan yang ia miliki untuk menuntun, mengantar kita kembali ke jalur yang semestinya. Tapi itu semua sia-sia, kita yang sudah terlalu beku membuatnya hanya bisa menjerit dan menjerit untuk kembali tidak didengarkan oleh kita.
Hati adalah kontrol bagi diri dan sikap kita. Ia mampu melihat dan merasakan apa yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera kita. Tak ada satupun kontrol yang lebih kuat daripada suara hati kita. Maka asahlah ia, dengarkan ia, Insya Allah hidup ini, perjalanan ini akan senantiasa berjalan di atas rel yang sesungguhnya. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang terselamatkan. Amin.

opix
Monday, April 02, 2007
*BTW diawal tulisan agak slengekan, tapi di akhir tulisan ko’ berat banget yach…???

Posted by opix at 09:22:35 | Permalink | No Comments »