Monday, April 9, 2007

Minggu Pagi (1)

Aktifitas yang kurasa agak melelahkan sedikit banyak membuatku merasa capek, meskipun aktifitas itu tidak banyak menguras fisik, tapi memang kuakui aktifitasku itu lebih banyak pada aktifitas yang justru menguras pikiran. Itulah yang menyebabkan pada minggu pagi ini aku sudah berniat untuk menghabiskan waktuku dengan tidur sepuasnya, tanpa memikirkan segala beban yang selama ini ada dibenakku.

Sehabis shalat shubuh, aku melakukan aktifitas seperti biasa, santai di pagi hari sambil membaca berita-berita yang disuguhkan oleh Korannya orang Jawa Timur, Jawa Pos. Setelah membaca berita terkini yang terjadi di Nusantara dan berbagai berita dari belahan dunia, aku mulai merasakan kantuk lagi. Sebenarnya aku tak ingin tidur pada hari yang terlalu pagi, inginnya sih agak siangan dikit. Kemudian aku merebahkan tubuh di atas kasur yang tanpa penyangga atau tanpa kerangka itu. Waktu masih menunjukkan sekitar pukul tujuh pagi.

Tak terasa mata ini sedikit demi sedikit terpejam, dan akhirnya melayanglah nyawa ini meninggalkan raganya. Dalam tidurku itu aku mengalami beberapa kejadian aneh, mimpi tapi aku merasa masih dalam keadaan sadar yang benar-benar sadar. Dalam mimpi itu aku bermimpi tidur yang membuahkan mimpi juga, dan mimpi yang kedua itu juga membuahkan mimpi hingga akhirnya sampai bertingkat empat. Pada mimpi yang pertama aku bermimpi bersama anak-anak tempat aku tinggal saat ini, pada mereka aku katakan bahwa kita ini sedang dalam alam mimpi, tapi mereka nggak percaya. Akhirnya setelah meyakinkan mereka tidak berhasil, aku pun pergi meninggalkannya, berusaha untuk kembali ke alam nyata. Dengan susah payah dan sekuat tenaga aku pun berhasil kembali kea lam nyata.

Tapi, baru beberapa waktu lamanya di tempat yang baru, aku baru menyadari bahwa aku masih berada pada alam mimpi yang begitu aneh itu. Dengan sekuat tenaga lagi aku berusaha untuk yang kedua kalinya agar bangun menuju ke alam yang benar-benar nyata. Wush…Aku pun berhasil memasuki alam nyata itu. Aku merasa lega. Tapi kemudian keanehan-keanehan mulai satu-persatu muncul dalam tiap kejadian yang kualami. Dan untuk yang kesekian kalinya aku sadar kalau aku masih dalam alam mimpi yang sangat-sangat aneh itu.

Tak putus asa dengan tipuan-tipuan mimpi itu, untuk yang ketiga kalinya aku mengerahkan segala kemampuanku menuju ke alam dunia tempatku hidup saat ini. Untuk kali ini aku benar-benar yakin bahwa aku telah berhasil kembali ke alam nyata ini. Aku bertemu orang-orang dan beraktifitas seperti biasa yang kulakukan. Beberapa saat kemudian aku merasakan kejanggalan yang sama seperti sebelumnya, dan untuk keempat kalinya aku berhasil ditipu oleh mimpi-mimpi aneh itu.

Sambil meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa mengakhiri semua mimpi aneh ini, aku kembali mengerahkan segala tenaga yang kupunya untuk keempat kalinya, dan usaha yang terakhir ini kusertai dengan berdoa kepada Allah. Kugerakkan tubuhku agar segera bisa bangun dari mimpi aneh itu, tapi tubuh ini terasa kaku tak berdaya. Berulang-ulang kucoba melakukannya, saat itu juga kurasakan dada kiriku, tepatnya di jantung ini terasa dingin menggigil. Semakin lama makin terasa dinginnya, hingga aku sempat berpikir apakah ini akhir dari hidupku? Seperti inikah rasanya orang yang akan menemui ajalnya? Tapi aku tak melihat sang malaikat pencabut nyawa itu. Meskipun demikian, aku terus bersyahadat dan menyebut asma Allah, Tuhan Yang Maha Menguasai Segalanya, termasuk hidup dan matiku ini. Di antara perasaan sadar dan tidak, aku terus menyebut-Nya, bersiap bila sewaktu-waktu utusan-Nya, sang Malaikat Maut itu benar-benar  datang.

Usahaku tidak sia-sia. Aku terbangun. Aku sudah benar-benar telah berada di alam nyata ini. Sejenak aku tercengang, bingung, dan terus berpikir tentang mimpi-mimpi itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah yang akan menimpa diri ini? Apakah itu semua adalah tanda-tanda akan terjadi sesuatu? Akujuga tak tahu. Tapi bayangan mimpi itu terasa seperti amat nyata dan tak bisa hilang begitu saja.

Surabaya, 8-4-2007.

Posted by opix at 04:10:52 | Permalink | No Comments »

Saturday, April 7, 2007

Mempercayai Diri Sendiri

Dalam menapaki jalan yang penuh liku ini, kita banyak dihadapkan pada persoalan yang terkadang sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya. Sesulit apapun permasalahan yang kita hadapi, sebenarnya semua telah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita sebagai seorang makhluk Allah. Karena Dia telah menyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa manusia diberikan sebuah ujian disesuaikan dengan kadar kemampuannya, tidak lebih.

Oleh karena itu, kalau kita memiliki permasalahan, sebenarnya kita dapat menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain, psikolog atau yang lainnya. Kita adalah orang yang paling tahu terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi dan paling memahaminnya. Namun kebanyakan dari kita tidak pernah menyadarinya. Kita sudah terlarut dan terbawa dalam emosi serta aroma permasalahan yang timbul, sehingga hati kita benar-benar tertutup untuk bangkit dan menuntaskannya.

Banyak orang yang salah dalam menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi. Tak jarang mereka malah terjerumus pada sebuah penyelesaian yang salah. Itulah karena kita tidak bisa mempercayai diri sendiri, kita sudah kehilangan rasa kontrol diri. Padahal dengan mempercayai diri sendiri, kita tidak akan mudah tertipu dengan bujukan-bujukan yang bisa menjerumuskan diri kita.

Kalaupun kita membutuhkan orang lain, itu hanya sebagai bahan buat kita, dan semuanya tergantung dari kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kalau kita yakin terhadap diri sendiri, maka tak akan ada lagi persoalan yang terasa rumit untuk kita. Namun, tetap dengan diiringi dengan doa lho, sebagai bukti bahwa kita adalah manusia yang beragama dan tetap membutuhkan pada kekuasaan Sang Pencipta.

Memberikan yang terbaik buat kehidupan adalah kewajiban….

Posted by opix at 04:30:12 | Permalink | No Comments »

–Untuk Seseorang yang selalu aku sayangi namun tak akan pernah aku miliki (2)–

Aku terus berpikir, mengapa aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, perasaan sayang, kangen, dan berbagai perasaan lain yang selalu membuatku kalut kalau memikirkannya. Bahkan kalau boleh jujur, perasaan itu terus mengalir dengan derasnya, hampir tak bisa kubendung lagi. Dan, untuk yang kesekian kalinya juga aku tak pernah bisa mengerti kenapa semua itu terjadi?!! Sungguh…
Walaupun sekuat tenaga telah kukerahkan dan sekuat pikiran pula telah aku curahkan buat mengeliminasi perasaan itu kepadamu, namun serangan balik yang terjadi sungguh lebih besar daripada yang aku kerahkan.

Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Terombang-ambing, terkoyak, tercabik-cabik seiring kuatnya serangan perasaan itu. Dalam benakku kadang muncul sebuah harapan “ANDAIKAN ADA KESEMPATAN KEDUA”, suatu keberuntungan bagiku, mungkin. Dan, tak ada yang tahu memang.

Sedangkan kenyataan yang aku dan kamu hadapi sungguh sulit. Mungkin lebih sulit lagi bagimu. Itulah yang membuat aku semakin ingin untuk membawamu keluar dari segala kekacauan ini. Tapi hatiku terus bergejolak. Tiada yang dapat kuperbuat dengan situasi yang ada seperti ini.

Sekedar kamu ketahui, seberapa perasaan cinta ini, seberapa besar kasih sayang ini, dan seberapa besar keinginanku buat membebaskanmu dari cengkeraman kabut hitam yang menyelimutimu. Tiap waktu aku selalu memanjatkan doa kepada Sang Pencipta, semoga kamu dan aku dapat dipertemukan lagi pada situasi yang lebih baik. Walaupun aku sadar kemungkinan itu sungguh sangat kecil, bahkan hampir tak mungkin lagi.

Mungkin aku saat ini bisa membohongi dirimu dengan keadaanku yang sekarang. Tapi hati ini tak bisa terus-menerus berbohong, aku ingin mengungkapkan semuanya, mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya, kenyataan yang seolah tidak masuk akal. Namun, kapankah harus kulakukan? Aku tak punya keberanian yang lebih buat melakukan semua itu. Ya Tuhan…Tolonglah hamba-Mu yang penuh dengan kelemahan ini!!!

Satu hal yang terus membuatku semakin tak berdaya menghadapinya. Kenyataan bahwa dirimu semakin dekat dengan waktu yang sebenarnya tak pernah kamu inginkan. Waktu, yang sejak dulu kamu coba untuk lari dan lari darinya. Hingga membuat dirimu semakin lelah dan putus asa dalam tiap kesempatan yang datang.

Waktu itu seolah momok yang sangat menakutkan bagimu. Dan aku pun dapat memahaminya. Siapapun pasti tidak akan bisa menerimanya jika harus menghadapi kenyataan yang ada, seperti yang kamu rasakan saat ini. Sulit, sungguh sulit. Karena itu, semakin aku mendengar keadaanmu yang sekarang, perasaanku semakin kacau juga dibuatnya. Aku sendiri pun tak dapat memahaminya. Kenapa?!!

Sungguh! Aku menginginkan melihatmu bahagia, ceria, tak ada beban yang terus memburu, dan membayangi hidupmu. Aku rela dengan segala hal yang bisa membuatmu menjadi bahagia, biarpun aku harus terluka dengan semua kenyataan ini. Aku ingin melihatmu merasakan kebahagiaan itu, meski untuk yang terkahir kali. Dan pasti harapanku adalah yang terbaik buatmu.
Doaku selalu menyertaimu…Kekasih yang tak akan pernah aku milki…

Posted by opix at 04:27:35 | Permalink | No Comments »

Proses Menuju Kedewasaan (2)

Menuju kedewasaan adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Sebab, semakin dewasa seseorang, semakin besar pula tanggungjawab yang harus diemban. Tidak semakin ringan. Namun demikian, mau tidak mau kita harus melewati dan menjalaninya. Dan pada masa itulah ketahanan, cara pandang, pola berpikir, serta tindakan kita diuji untuk mengetahui seberapa kita mampu menjalani alur kehidupan ini.

Memang, fitrah manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan-kekurangan. Meskipun kita dapat sebutan—atau paling tidak derajat yang lebih mulia dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain, kita juga tak dapat memungkiri atas kelemahan diri kita. Sehebat apapun manusia itu, pasti di sisi lain pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Dari sinilah, mampukah kita menghadapi kelemahan kita dengan sadar, lapang dada dan mau menerima kelemahan-kelemahan itu serta tidak pernah putus asa untuk mengubahnya agar lebih baik?!!

Berpikir arif dan bijak dalam menghadapi semua kelemahan dan kekurangan diri kita sangat diperlukan. Tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali atas kemauan dan tekad besar kita. Orang tua, saudara, suami / istri, anak, atau siapapun tidak akan pernah dan tidak akan bisa membuat kita menuju arah kedewasaan tersebut tanpa usaha diri sendiri, tentunya dengan usaha mendekatkan diri dan berdoa kepada Tuhan. Mereka hanyalah salah satu pemacu rasa tersebut.
Sejalan dengan itu semua, diri kita juga mempunyai potensi-potensi yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kekuatan potensi itu, sebenarnya ujian bagi kedewasaan kita juga. Mampukah kita mengembangkan, memanfaatkan dan memberikan nilai positif dari potensi-potensi yang kita miliki itu buat diri sendiri, orang lain dan lingkungan tempat kita berpijak untuk menjalani kehidupan ini?!!

Kalau kita pikir, Tuhan sangat begitu percaya dengan kita, manusia. Walaupun dalam banyak hal dan kalau sempat kita kalkulasi antara kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia, pastilah banyak keburukan yang telah dilakukan. Berbagai tindak keburukan baik yang terlihat, terasa, tercium, teraba, terdengar oleh panca indera kita maupun segala keburukan yang tak pernah terpantau, karena kelemahan panca indera kita juga, dan dari segala keburukan mulai tingkatan sekelas ikan teri sampai sekelas ikan kakap yang telah kita lakukan, Tuhan masih dan masih terus mempercayai kita. Kalau sudah begini, tidak malukah kita kepada-Nya? Tidak takutkah kita kepada-Nya atas kebohongan-kebohongan yang kita perbuat, padahal kita juga tahu kalau Tuhan tidak bisa dibohogi?!

Waduh…Memang sulit memahami perilaku manusia. Mereka yang kadang baik bisa sebaik malaikat, tapi kalau sudah mucul sifat kebinatangannya, mereka tak lebih hanya setara bahkan di bawah saudara satu spesiesnya itu. 
Sebagai manusia yang diciptakan dari setetes barang menjijikkan dan hina, namun kemudian dijadikan sebagai makhluk yang mulia, yang diberi akal dan hati nurani, seharusnya kita bisa merenungkan asal kejadian kita tersebut. Hina, menjijikkan kemudian diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin makhluk di dunia dengan segala potensi yang tidak dimiliki makhluk ciptaan Tuhan yang lain, seharusnya kita sadar dan segera bangun dari segala kesombongan yang membutakan, itulah sikap yang seharusnya kita miliki. ^_^

Posted by opix at 04:26:09 | Permalink | No Comments »

Wednesday, April 4, 2007

Help me..

Aduh…komputer ku kacau, gara-gara virus yang menamakan dirinya dengan BLUE FANTASY. Saya akui anda pembuat sang virus ini pandai, tapi alangkah baiknya kalau anda gunakan untuk hal yang positif gitu…Wah emang ga’ habis pikir sih, kenapa juga tangan anda dikotori dengan mengganggu kenyamanan orang lain. Emang virus yang anda buat itu ga sampe merusak file dan data-data saya. Tapi keberadaannya sudah sangat mengganggu. 

buat sobat yang punya tips buat ngilangi virus ini saya tunggu bantuannya, coz dah saya coba berkali-kali untuk menghilangkannya, tapi belum berhasil. Thanks sebelumnya, en buat yang bikin virus moga tobat dech… 

Posted by opix at 06:42:55 | Permalink | No Comments »

–Untuk Seseorang yang selalu aku sayangi namun tak akan pernah aku miliki–

Memang…..Kalau dirunut dari awal mula kita bertemu, semua terasa panjang. Kamu adalah teman masa kecilku, teman sepermainanku, dan teman satu sekolah denganku. Aku tak bisa melupakan semua itu….
Memang….Kamu dan aku hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan, kita tak bisa memungkiri semua itu. Kelemahan batin, kelemahan emosi, kelemahan sikap dan berbagai kelemahan lain yang tidak akan pernah menjadi sempurna. Itulah kenyataan…

Memang….Kita sejak lama saling mengenal. Dan tanpa tahu siapa yang memulai, tanpa tahu semua itu berasal dari mana, dan tanpa tahu untuk apa. Aku, kamu….Saling berbagi, bercerita, saling menerima kekurangan, dan tidak terasa pula aku akan merasa sangat kehilangan jika kamu tiada, jika kita lama tak saling bertemu, aku merasakan satu kerinduan yang mendalam.
Memang….Perasaan ini muncul tanpa ada yang mengomando, tanpa ada yang memaksa dan memerintah, tapi perasaan ini tulus dari dalam hatiku. Sejak dahulu hingga detik ini perasaan sayang ini tak akan pernah sirna. Walau pun kini tiada lagi kesempatan bagiku untuk mu. Aku sadar…Seratus persen sadar akan semua yang terjadi. Tapi harapan atasmu selalu ku panjatkan kepada-Nya. Mungkin kamu juga mengerti akan semua ini. Tapi, aku tak yakin kamu akan bisa melewatinya.

Memang….Ini semua sudah jalan yang ditentukan oleh-Nya. Tak ada yang tahu akan maksud yang dibawanya. Hanya doa yang dapat kupanjatkan buatmu…Buat kita…

Tapi….Satu yang tak ingin ku dengar darimu, kekecewaan dan keterpaksaan. Aku sungguh sakit jika mendengarnya, aku ingin membawamu keluar dari semua kekacauan ini, tapi apa yang bisa kuperbuat? Sungguh aku tak berdaya dengan keadaan ini. Aku tak bisa membohongi diri ini, kalau perasaan sayang ini tak akan pernah bisa hilang buatmu, meskipun kita tak lagi bersama.

Memang….selama ini aku hanya bisa memendam, memendam, dan memendam perasaan ini. Tapi, sekuat apapun kucoba, aku hanyalah manusia yang penuh kelemahan-kelemahan. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini kucoba ungkapkan segala perasaan yang mengganjal dalam tiap relung hatiku.

Buat kamu…Sayang ini, rindu dan cinta ini. Mudah-mudahan semuanya akan menuju pada jalan terbaik…AKU SELALU MENYAYANGIMU….

Posted by opix at 06:04:11 | Permalink | No Comments »

Ciri Orang Sehat Secara Psikologis

Orang-orang sukses memiliki persamaan kepribadian dengan orang-orang yang sehat secara psikologis. Menurut Maltz, ada empat ciri orang sehat secara psikologis :
1. Orang yang sehat secara psikologis mengontrol kehidupan mereka secara sadar. Walaupun tidak selalu rasional, orang-orang ini mampu secara sadar mengatur tingkah laku dan bertanggungjawab terhadap nasib mereka sendiri. Karenanya, mereka tidak suka menyalahkan orang lain (lingkungan) dan mengkambing hitamkannya.
2. Orang yang sehat secaar psikologis mengetahui diri mereka apa dan siapa. Mereka menyadari kekuatan dan kelemahan, kebaikan dan keburukan mereka, dan umumnya mereka sabar dan menerima hal-hal tersebut. Mereka tak berkeinginan menjadi sesuatu yang bukan mereka. Meski mereka dapt memainkan peranan–peranan sosial untuk memenuhi tuntutan-tuntutan orang lain ata situasi, namun mereka tidak mengacau balaukan peranan-peranan ini dengan diri mereka yang sebenarnya.
3. Mereka bersandar kuat pada masa kini. Meski para ahli teori itu percaya bahwa kita tidak kebal terhadap pengaruh-pengaruh masa lampau (khususnya kanak-kanak), namun tidak seorang pun mengatakan bahwa kita tetap dibentuk oleh pengalaman-pengalaman awal (sblm usia 5 th). Pada sisi lain mereka memandang masa depan sebagai sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak mengganti masa kini dengan masa depan.
4. Orang yangsehat secara psikologis tidak merindukan ketengan dan kestabilan, tetapi mendambakan tantangan dan kegembiraan dalam kehidupan, tujuan-tujuan baru dan pengalaman-pengalaman baru.(opix)
Posted by opix at 05:59:01 | Permalink | No Comments »

Proses Menuju Kedewasaan

<img align=”left” src=”http://amadeo.blog.com/repository/840367/1881208.gif />Tiap manusia pasti akan melalui tiga proses kehidupan ini, yaitu : lahir, tumbuh dan mati. Dari lahir sampai menuju kematian tersebut manusia akan melewati beberapa tahap kehidupan yang kesemuanya memiliki proses berbeda-beda. Proses kelahiran merupakan tahap awal manusia mengetahui alam dunia yang penuh hiruk pikuk dan tipu daya ini. Kemudian, ia akan tumbuh menjadi kanak-kanak, yaitu masa yang menurut sebagian besar orang sangat menyenangkan. Kita masih belum memiliki tanggungjawab, beban, atau pun seabrek persoalan hidup ini. Sebagian besar waktu, kita gunakan untuk bermain, bercanda, belajar bersama teman-teman sebaya tanpa ada beban. Sungguh sangat menyenangkan kalau ingat masa kanak-kanak dulu, meskipun dapat kita pahami tidak semua anak dapat menikmati masa kanak-kanaknya dengan berbagai aktifitas seperti itu. Namun, tidak seorangpun yang menyangkal bahwa memang masa itu adalah masa dimana seseorang belum memiliki segala tanggungan hidup.

Setelah proses kanak-kanak, manusia juga melalui proses –yang dapat disebut masa transisi—dalam bahasa manusia, disebut remaja. Pada masa inilah, manusia banyak mengalami dilema, konflik intern, dan banyak hal yang sebagian besar dari manusia dalam proses ini belum bisa mengatasi problem mereka dengan baik, walaupun mereka sudah sedikit banyak mampu untuk memilah dan menyaring permasalahan yang ada. Pada masa transisi inilah manusia terus mencoba berbagai hal yang belum pernah dilakukannya, rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap susuatu. Kalau mereka tidak memiliki iman yang kuat, maka tak ayal lagi ia bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Inilah yang harus diwaspadai oleh setiap inidividu dan para orang tua dalam mendidik anaknya. Proses ini juga—kita sering menyebutnya—sebagai proses pencarian jati diri. Entah apa yang di maksud dengan pencarian jati diri ini? Namun, kenyataan di masyarakat mereka yang memasuki usia ini, memang belum sepenuhnya memiliki tanggungjawab dan mampu bertanggungjawab. Keadaan selama masa kanak-kanak masih sangat berpengaruh besar terhadap pola pikir mereka. Tapi, mereka juga tak mau dikatakan anak kecil…! Repot juga. Disinilah orang tua harus bijak mengarahkan anak-anaknya.

Masa kanak-kanak dan remaja telah terlewati. Menujulah ia ke masa kedewasaan. Bagaimana seseorang dapat dikatakan dewasa? Apakah ia orang yang sudah berumahtangga dan mempunyai anak banyak? Apakah ia orang yang sudah berumur tua, tiga puluh atau empat puluh tahun ke atas? Ataukah mereka yang memiliki sederet gelar akademis dari berbagai universitas?
Sebenarnya saya sendiri pun tak dapat menjawab dengan pasti. Tapi menurut saya, kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari berbagai kriteria yang disebutkan di atas. Dewasa tidak harus dia sudah berumahtangga dan memiliki banyak anak. Dewasa tidak harus orang yang sudah berumur. Dewasa tak harus orang yang memiliki sederet gelar akademis.

Dewasa adalah mereka yang mampu berpikir bijak, arif dan berpandangan ke depan. Ia mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsi dan porsinya masing-masing. Dewasa adalah mereka yang mampu memahami jalannya kehidupan ini. Karena manusia tidak hanya hidup, tapi mengarungi kehidupan. Dan mengarungi kehidupan lebih susah ketimbang hanya bertahan hidup. Mereka yang dewasa akan selalu memikirkan kehidupan ini, kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Serta kehidupan seluruh alam semesta dan lingkungan. Manusia yang berumur belum tentu dapat berpikir dewasa, bahkan kadang-kadang mereka bisa berbuat lebih tolol daripada mereka yang berada di bawahnya.

Kedewasaan tidaklah datang dengan sendirinya. Ia akan datang jika manusia mau memahami arti kehidupan ini. Mereka yang mau belajar dan belajar untuk memahami dan mengerti setiap kejadian yang menimpa dirinya, saya yakin kedewasaan sikap, pola pikir, tingkah laku, wawasan dan pengambilan keputusan akan ada pada pribadinya. Sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini mampu untuk menjadi dewasa? Sampai dimanakah kita bisa memaknai tiap kejadian yang menimpa kita? Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, memang sulit untuk bisa mencapai itu semua. Namun, sepanjang usia masih tersisa berusaha untuk mencapai kedewasaan itu adalah jalan terbaik. Semoga bermanfaat…!

Posted by opix at 05:52:21 | Permalink | No Comments »

Monday, April 2, 2007

Salam Kenal…

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam kenal buat semua…!
Ini pertama kalinya saya membuat blog ini…he…he…he…ketinggalan jaman baget dech…. :)
Tapi berawal dari sini saya mencoba merambah dunia yang dapat dikatakan begitu luas, kadangkala juga bisa menjadi begitu sempit. Waduh…emang dasar manusia, ga pernah ada puasnya, kalo saya bilang. Tul ga’?
Kembali pada semua hal yang berhubungan dengan dunia ini, yang sudah saya katakan sebelumnya, kadangkala terasa amat luas hingga dalam pikiran kita terasa tidak akan pernah dapat mengetahui semuanya–tapi emang kebanyakan seperti itu ci–tapi kadangkala terasa amat sempit, sempiiit banget hingga kita merasa gerah berada di dalamnya, dan maunya tu pengen banget keluar angkasa sana, ato kalo pengen lebih ekstrem lagi pengennya malah koit aja dari ni dunia. Ih…ngeri deh kalo ampe punya pikiran kayak gitu.
Emang itulah kenyataan yang akan, sedang, atau sudah kita lalui. Semua manusia pasti mengalami itu (ngomong apaan ci….dari tadi koq muter-muter aja, ga’ paham tau??!). Begini, smua pasti dah ngerasain hidup (ya iyalah…emang lu yang nulis ini pa ga idup?!), maksud ana dalam hidup ini pastilah ada dua sisi yang berlainan dan bertolak belakang. Ada baik vs buruk, ada ganteng vs buruk juga and ada cantik vs buruk lagi….hehehe. yach kuranglebih gitulah maksud aku. Semua pasti dah pernah ngalamin hal-hal yang nyenengin, agak nyenengin ato sangat, sangat nyenengin. Atau bahkan merasakan hal yang amatttttttttttttttt menyakitkan. Aku yakin semuuuuaa pasti pernah ngalaminnya, ya ga’?
Oleh sebab itu, saya nulis ini, buat saya sendiri khususnya, dan orang lain yang mau baca tulisan ini tentunya. Semoga bermanfaat…!
Saya punya pengalaman dari beberapa teman yang pernah mempunyai masalah mengenai kehidupannya, ada yang masalah keluarga, pacar, suami ato istri, dan banyak macem yang lain. Emang semuanya begitu kompleks kalo dipikir dengan akal saja. Di sinilah saya mau meguraikan sedikit yang ada dalam diri manusia, yaitu HATI.
Manusia dilahirkan ke dunia ini dengan fitrahnya sebagai manusia suci, fitrah yang memiliki kepribadian baik, positive thinking dan seabrek potensi positive lainnya. Namun, dalam perjalanan hidup yang penuh liku, semua potensi positif yang ada dapat teracuni oleh berbagai hal negatif selama menempuh perjalanan hidup ini. Dari pengalaman beberapa teman itulah saya menemukan betapa berharga dan sangat ampuhnya senjata yang bernama hati ini.
Dari teman-teman itulah saya–saat ini dan untuk seterusnya–belajar, belajar dan belajar untuk memahami pengaruh hati ini terhadapa segala aspek hidup yang saya jalani. Dan selama saya memperoleh cerita dan pengalaman dari rekan-rekan itu, dapat saya simpulkan, betapa berat dan rumitnya suatu masalah, kuncinya ada pada diri kita sendiri. Kita yang mengetahui masalah itu, bukan orang lain, dan kitalah yang bisa meraba, menganalisis, dan untuk akhirnya mengakhiri semua persoalan yang sedang kita hadapi. Ya…hanya satu kunci semuanya, dengan kejernihan hati, kejernihan pikiran, semuanya Insya Allah dapat kita atasi. Karena hati adalah letak segala kebenaran, disanalah hakikat kebenaran yang Sesungguhnya berada.
Kita mungkin pernah melakukan banyak kebohongan. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiri pun, kita bahkan sering melakukannya. Disaat seperti itulah sebenarnya hati kita terus menerus mengingatkan, menolak, dan menentang aktivitas yang kita perbuat tersebut. Namun, dengan bermacam alasan yang kadang kala sangat tidak beralasan, kita mencoba menipu diri kita sendiri. Kita sering, bahkan hampir tidak pernah mendengarkan suara hati kita yang menjerit keras, menjerit dengan semua kemampuan yang ia miliki untuk menuntun, mengantar kita kembali ke jalur yang semestinya. Tapi itu semua sia-sia, kita yang sudah terlalu beku membuatnya hanya bisa menjerit dan menjerit untuk kembali tidak didengarkan oleh kita.
Hati adalah kontrol bagi diri dan sikap kita. Ia mampu melihat dan merasakan apa yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera kita. Tak ada satupun kontrol yang lebih kuat daripada suara hati kita. Maka asahlah ia, dengarkan ia, Insya Allah hidup ini, perjalanan ini akan senantiasa berjalan di atas rel yang sesungguhnya. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang terselamatkan. Amin.

opix
Monday, April 02, 2007
*BTW diawal tulisan agak slengekan, tapi di akhir tulisan ko’ berat banget yach…???

Posted by opix at 09:22:35 | Permalink | No Comments »