Minggu Pagi (1)
Aktifitas yang kurasa agak melelahkan sedikit banyak membuatku merasa capek, meskipun aktifitas itu tidak banyak menguras fisik, tapi memang kuakui aktifitasku itu lebih banyak pada aktifitas yang justru menguras pikiran. Itulah yang menyebabkan pada minggu pagi ini aku sudah berniat untuk menghabiskan waktuku dengan tidur sepuasnya, tanpa memikirkan segala beban yang selama ini ada dibenakku.
Sehabis shalat shubuh, aku melakukan aktifitas seperti biasa, santai di pagi hari sambil membaca berita-berita yang disuguhkan oleh Korannya orang Jawa Timur, Jawa Pos. Setelah membaca berita terkini yang terjadi di Nusantara dan berbagai berita dari belahan dunia, aku mulai merasakan kantuk lagi. Sebenarnya aku tak ingin tidur pada hari yang terlalu pagi, inginnya sih agak siangan dikit. Kemudian aku merebahkan tubuh di atas kasur yang tanpa penyangga atau tanpa kerangka itu. Waktu masih menunjukkan sekitar pukul tujuh pagi.
Tak terasa mata ini sedikit demi sedikit terpejam, dan akhirnya melayanglah nyawa ini meninggalkan raganya. Dalam tidurku itu aku mengalami beberapa kejadian aneh, mimpi tapi aku merasa masih dalam keadaan sadar yang benar-benar sadar. Dalam mimpi itu aku bermimpi tidur yang membuahkan mimpi juga, dan mimpi yang kedua itu juga membuahkan mimpi hingga akhirnya sampai bertingkat empat. Pada mimpi yang pertama aku bermimpi bersama anak-anak tempat aku tinggal saat ini, pada mereka aku katakan bahwa kita ini sedang dalam alam mimpi, tapi mereka nggak percaya. Akhirnya setelah meyakinkan mereka tidak berhasil, aku pun pergi meninggalkannya, berusaha untuk kembali ke alam nyata. Dengan susah payah dan sekuat tenaga aku pun berhasil kembali kea lam nyata.
Tapi, baru beberapa waktu lamanya di tempat yang baru, aku baru menyadari bahwa aku masih berada pada alam mimpi yang begitu aneh itu. Dengan sekuat tenaga lagi aku berusaha untuk yang kedua kalinya agar bangun menuju ke alam yang benar-benar nyata. Wush…Aku pun berhasil memasuki alam nyata itu. Aku merasa lega. Tapi kemudian keanehan-keanehan mulai satu-persatu muncul dalam tiap kejadian yang kualami. Dan untuk yang kesekian kalinya aku sadar kalau aku masih dalam alam mimpi yang sangat-sangat aneh itu.
Tak putus asa dengan tipuan-tipuan mimpi itu, untuk yang ketiga kalinya aku mengerahkan segala kemampuanku menuju ke alam dunia tempatku hidup saat ini. Untuk kali ini aku benar-benar yakin bahwa aku telah berhasil kembali ke alam nyata ini. Aku bertemu orang-orang dan beraktifitas seperti biasa yang kulakukan. Beberapa saat kemudian aku merasakan kejanggalan yang sama seperti sebelumnya, dan untuk keempat kalinya aku berhasil ditipu oleh mimpi-mimpi aneh itu.
Sambil meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa mengakhiri semua mimpi aneh ini, aku kembali mengerahkan segala tenaga yang kupunya untuk keempat kalinya, dan usaha yang terakhir ini kusertai dengan berdoa kepada Allah. Kugerakkan tubuhku agar segera bisa bangun dari mimpi aneh itu, tapi tubuh ini terasa kaku tak berdaya. Berulang-ulang kucoba melakukannya, saat itu juga kurasakan dada kiriku, tepatnya di jantung ini terasa dingin menggigil. Semakin lama makin terasa dinginnya, hingga aku sempat berpikir apakah ini akhir dari hidupku? Seperti inikah rasanya orang yang akan menemui ajalnya? Tapi aku tak melihat sang malaikat pencabut nyawa itu. Meskipun demikian, aku terus bersyahadat dan menyebut asma Allah, Tuhan Yang Maha Menguasai Segalanya, termasuk hidup dan matiku ini. Di antara perasaan sadar dan tidak, aku terus menyebut-Nya, bersiap bila sewaktu-waktu utusan-Nya, sang Malaikat Maut itu benar-benar datang.
Usahaku tidak sia-sia. Aku terbangun. Aku sudah benar-benar telah berada di alam nyata ini. Sejenak aku tercengang, bingung, dan terus berpikir tentang mimpi-mimpi itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah yang akan menimpa diri ini? Apakah itu semua adalah tanda-tanda akan terjadi sesuatu? Akujuga tak tahu. Tapi bayangan mimpi itu terasa seperti amat nyata dan tak bisa hilang begitu saja.
Surabaya, 8-4-2007.