Minggu Pagi (2)
Setelah aku terbangun dari mimpi-mimpi aneh itu, beberapa saat kemudian aku kembali memejamkan mataku yang sudah merasakan kantuk lagi di minggu pagi ini, dan memang dari awal aku sudah berniat untuk menghabiskan minggu ini dengan tidur. Tanpa menunggu lama, nyawa ini kembali berpisah dengan raganya. Melayang, menembus kembali ke alam mimpi yang sampai saat ini juga masih terngiang, serta masih membayangi aku.
Mimpi dalam tidurku kali ini membuatku sedih. Mengapa? Karena aku memimpikan sahabatku, sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku. Dia, sahabat terbaik yang kini telah meninggalkan aku, keluarganya, serta sahabat-sahabatnya yang lain. Dia telah kembali kepada sang Khalik, dengan begitu mendadak tanpa ada seorang pun yang menyangka akan kejadian itu. Kami semua begitu terkejut dengan ketiaadaannya yang tanpa pesan dan tanda apapun. Memang sampai sekarang aku dan sahabat-sahabat yang lain masih merasakan kehadirannya, walaupun dalam kenyataannya dia sudah tak bersama kami lagi.
Mimpi pagi ini seperti mengingatkan aku kembali padanya. Dalam mimpi itu, walaupun sepertinya aku tak dapat secara langsung bertemu dengannya, aku merasakan kembali saat-saat terakhir akan kepergiaannya. Dalam sakitnya yang parah, salah seorang keluarganya menyampaikan bahwa aku dicari-cari olehnya. Dia memanggil-manggil aku. Memang dalam mimpi itu aku tidak diberi kesempatan bertemu dengannya sekali pun. Meskipun begitu aku merasa sangat dekat dengannya. Entah apa yang terjadi, bahkan hingga aku hampir bangun tidak juga aku bertemu dengannya.
Aku merasakan seolah ia memanggil aku. Mengajak aku bertemu kembali dengannya. Bercerita seperti saat ia masih bersama kami dulu. Aku sungguh begitu tak mengerti dengan mimpiku ini. Meski mimpi kali ini tidak seaneh mimpi sebelumnya, aku juga masih menyisakan tanda tanya besar dengan semua yang terjadi padaku pagi ini.
Apakah yang akan terjadi padaku? Tanda-tanda apakah semua ini? Dan berbagai pertanyaan lain yang tak mungkin bisa kujawab, menggelayut, menghantui diriku. Mungkin waktu yang terus berjalan nanti yang akan bisa menjawabnya. Itupun kalau aku masih bisa menikmati kehidupan dunia yang penuh dengan tipu daya dan segala keanehannya. Tipu daya seperti mimpi pada tidurku yang pertama, serta keanehannya.
Akhirnya rencanaku menghabiskan minggu ini dengan tidur, yang sebelumnya kukira bisa menghilangkan segala beban aktifitas sehari-hariku selama ini kacau dengan hadirnya mimpi-mimpi itu. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini serta keadaan yang akan menimpaku. Aku telah merasakan berbagai keanehan akhir-akhir ini, yang kesemuanya tidak pernah bisa terjawab olehku. Mungkinkah aku akan segera meninggalkan semuanya dalam waktu dekat ini? Wallahu a’alam. Aku hanya berdoa semoga khusnul khatimah mengakhiri hidupku…
Surabaya, 8-4-2007