Saturday, April 7, 2007

Mempercayai Diri Sendiri

Dalam menapaki jalan yang penuh liku ini, kita banyak dihadapkan pada persoalan yang terkadang sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya. Sesulit apapun permasalahan yang kita hadapi, sebenarnya semua telah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita sebagai seorang makhluk Allah. Karena Dia telah menyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa manusia diberikan sebuah ujian disesuaikan dengan kadar kemampuannya, tidak lebih.

Oleh karena itu, kalau kita memiliki permasalahan, sebenarnya kita dapat menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain, psikolog atau yang lainnya. Kita adalah orang yang paling tahu terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi dan paling memahaminnya. Namun kebanyakan dari kita tidak pernah menyadarinya. Kita sudah terlarut dan terbawa dalam emosi serta aroma permasalahan yang timbul, sehingga hati kita benar-benar tertutup untuk bangkit dan menuntaskannya.

Banyak orang yang salah dalam menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi. Tak jarang mereka malah terjerumus pada sebuah penyelesaian yang salah. Itulah karena kita tidak bisa mempercayai diri sendiri, kita sudah kehilangan rasa kontrol diri. Padahal dengan mempercayai diri sendiri, kita tidak akan mudah tertipu dengan bujukan-bujukan yang bisa menjerumuskan diri kita.

Kalaupun kita membutuhkan orang lain, itu hanya sebagai bahan buat kita, dan semuanya tergantung dari kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kalau kita yakin terhadap diri sendiri, maka tak akan ada lagi persoalan yang terasa rumit untuk kita. Namun, tetap dengan diiringi dengan doa lho, sebagai bukti bahwa kita adalah manusia yang beragama dan tetap membutuhkan pada kekuasaan Sang Pencipta.

Memberikan yang terbaik buat kehidupan adalah kewajiban….

Posted by opix at 04:30:12 | Permalink | No Comments »

–Untuk Seseorang yang selalu aku sayangi namun tak akan pernah aku miliki (2)–

Aku terus berpikir, mengapa aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, perasaan sayang, kangen, dan berbagai perasaan lain yang selalu membuatku kalut kalau memikirkannya. Bahkan kalau boleh jujur, perasaan itu terus mengalir dengan derasnya, hampir tak bisa kubendung lagi. Dan, untuk yang kesekian kalinya juga aku tak pernah bisa mengerti kenapa semua itu terjadi?!! Sungguh…
Walaupun sekuat tenaga telah kukerahkan dan sekuat pikiran pula telah aku curahkan buat mengeliminasi perasaan itu kepadamu, namun serangan balik yang terjadi sungguh lebih besar daripada yang aku kerahkan.

Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Terombang-ambing, terkoyak, tercabik-cabik seiring kuatnya serangan perasaan itu. Dalam benakku kadang muncul sebuah harapan “ANDAIKAN ADA KESEMPATAN KEDUA”, suatu keberuntungan bagiku, mungkin. Dan, tak ada yang tahu memang.

Sedangkan kenyataan yang aku dan kamu hadapi sungguh sulit. Mungkin lebih sulit lagi bagimu. Itulah yang membuat aku semakin ingin untuk membawamu keluar dari segala kekacauan ini. Tapi hatiku terus bergejolak. Tiada yang dapat kuperbuat dengan situasi yang ada seperti ini.

Sekedar kamu ketahui, seberapa perasaan cinta ini, seberapa besar kasih sayang ini, dan seberapa besar keinginanku buat membebaskanmu dari cengkeraman kabut hitam yang menyelimutimu. Tiap waktu aku selalu memanjatkan doa kepada Sang Pencipta, semoga kamu dan aku dapat dipertemukan lagi pada situasi yang lebih baik. Walaupun aku sadar kemungkinan itu sungguh sangat kecil, bahkan hampir tak mungkin lagi.

Mungkin aku saat ini bisa membohongi dirimu dengan keadaanku yang sekarang. Tapi hati ini tak bisa terus-menerus berbohong, aku ingin mengungkapkan semuanya, mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya, kenyataan yang seolah tidak masuk akal. Namun, kapankah harus kulakukan? Aku tak punya keberanian yang lebih buat melakukan semua itu. Ya Tuhan…Tolonglah hamba-Mu yang penuh dengan kelemahan ini!!!

Satu hal yang terus membuatku semakin tak berdaya menghadapinya. Kenyataan bahwa dirimu semakin dekat dengan waktu yang sebenarnya tak pernah kamu inginkan. Waktu, yang sejak dulu kamu coba untuk lari dan lari darinya. Hingga membuat dirimu semakin lelah dan putus asa dalam tiap kesempatan yang datang.

Waktu itu seolah momok yang sangat menakutkan bagimu. Dan aku pun dapat memahaminya. Siapapun pasti tidak akan bisa menerimanya jika harus menghadapi kenyataan yang ada, seperti yang kamu rasakan saat ini. Sulit, sungguh sulit. Karena itu, semakin aku mendengar keadaanmu yang sekarang, perasaanku semakin kacau juga dibuatnya. Aku sendiri pun tak dapat memahaminya. Kenapa?!!

Sungguh! Aku menginginkan melihatmu bahagia, ceria, tak ada beban yang terus memburu, dan membayangi hidupmu. Aku rela dengan segala hal yang bisa membuatmu menjadi bahagia, biarpun aku harus terluka dengan semua kenyataan ini. Aku ingin melihatmu merasakan kebahagiaan itu, meski untuk yang terkahir kali. Dan pasti harapanku adalah yang terbaik buatmu.
Doaku selalu menyertaimu…Kekasih yang tak akan pernah aku milki…

Posted by opix at 04:27:35 | Permalink | No Comments »

Proses Menuju Kedewasaan (2)

Menuju kedewasaan adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Sebab, semakin dewasa seseorang, semakin besar pula tanggungjawab yang harus diemban. Tidak semakin ringan. Namun demikian, mau tidak mau kita harus melewati dan menjalaninya. Dan pada masa itulah ketahanan, cara pandang, pola berpikir, serta tindakan kita diuji untuk mengetahui seberapa kita mampu menjalani alur kehidupan ini.

Memang, fitrah manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan-kekurangan. Meskipun kita dapat sebutan—atau paling tidak derajat yang lebih mulia dibanding makhluk ciptaan Tuhan yang lain, kita juga tak dapat memungkiri atas kelemahan diri kita. Sehebat apapun manusia itu, pasti di sisi lain pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Dari sinilah, mampukah kita menghadapi kelemahan kita dengan sadar, lapang dada dan mau menerima kelemahan-kelemahan itu serta tidak pernah putus asa untuk mengubahnya agar lebih baik?!!

Berpikir arif dan bijak dalam menghadapi semua kelemahan dan kekurangan diri kita sangat diperlukan. Tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali atas kemauan dan tekad besar kita. Orang tua, saudara, suami / istri, anak, atau siapapun tidak akan pernah dan tidak akan bisa membuat kita menuju arah kedewasaan tersebut tanpa usaha diri sendiri, tentunya dengan usaha mendekatkan diri dan berdoa kepada Tuhan. Mereka hanyalah salah satu pemacu rasa tersebut.
Sejalan dengan itu semua, diri kita juga mempunyai potensi-potensi yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam kekuatan potensi itu, sebenarnya ujian bagi kedewasaan kita juga. Mampukah kita mengembangkan, memanfaatkan dan memberikan nilai positif dari potensi-potensi yang kita miliki itu buat diri sendiri, orang lain dan lingkungan tempat kita berpijak untuk menjalani kehidupan ini?!!

Kalau kita pikir, Tuhan sangat begitu percaya dengan kita, manusia. Walaupun dalam banyak hal dan kalau sempat kita kalkulasi antara kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia, pastilah banyak keburukan yang telah dilakukan. Berbagai tindak keburukan baik yang terlihat, terasa, tercium, teraba, terdengar oleh panca indera kita maupun segala keburukan yang tak pernah terpantau, karena kelemahan panca indera kita juga, dan dari segala keburukan mulai tingkatan sekelas ikan teri sampai sekelas ikan kakap yang telah kita lakukan, Tuhan masih dan masih terus mempercayai kita. Kalau sudah begini, tidak malukah kita kepada-Nya? Tidak takutkah kita kepada-Nya atas kebohongan-kebohongan yang kita perbuat, padahal kita juga tahu kalau Tuhan tidak bisa dibohogi?!

Waduh…Memang sulit memahami perilaku manusia. Mereka yang kadang baik bisa sebaik malaikat, tapi kalau sudah mucul sifat kebinatangannya, mereka tak lebih hanya setara bahkan di bawah saudara satu spesiesnya itu. 
Sebagai manusia yang diciptakan dari setetes barang menjijikkan dan hina, namun kemudian dijadikan sebagai makhluk yang mulia, yang diberi akal dan hati nurani, seharusnya kita bisa merenungkan asal kejadian kita tersebut. Hina, menjijikkan kemudian diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin makhluk di dunia dengan segala potensi yang tidak dimiliki makhluk ciptaan Tuhan yang lain, seharusnya kita sadar dan segera bangun dari segala kesombongan yang membutakan, itulah sikap yang seharusnya kita miliki. ^_^

Posted by opix at 04:26:09 | Permalink | No Comments »