<img align=”left” src=”http://amadeo.blog.com/repository/840367/1881208.gif />Tiap manusia pasti akan melalui tiga proses kehidupan ini, yaitu : lahir, tumbuh dan mati. Dari lahir sampai menuju kematian tersebut manusia akan melewati beberapa tahap kehidupan yang kesemuanya memiliki proses berbeda-beda. Proses kelahiran merupakan tahap awal manusia mengetahui alam dunia yang penuh hiruk pikuk dan tipu daya ini. Kemudian, ia akan tumbuh menjadi kanak-kanak, yaitu masa yang menurut sebagian besar orang sangat menyenangkan. Kita masih belum memiliki tanggungjawab, beban, atau pun seabrek persoalan hidup ini. Sebagian besar waktu, kita gunakan untuk bermain, bercanda, belajar bersama teman-teman sebaya tanpa ada beban. Sungguh sangat menyenangkan kalau ingat masa kanak-kanak dulu, meskipun dapat kita pahami tidak semua anak dapat menikmati masa kanak-kanaknya dengan berbagai aktifitas seperti itu. Namun, tidak seorangpun yang menyangkal bahwa memang masa itu adalah masa dimana seseorang belum memiliki segala tanggungan hidup.
Setelah proses kanak-kanak, manusia juga melalui proses –yang dapat disebut masa transisi—dalam bahasa manusia, disebut remaja. Pada masa inilah, manusia banyak mengalami dilema, konflik intern, dan banyak hal yang sebagian besar dari manusia dalam proses ini belum bisa mengatasi problem mereka dengan baik, walaupun mereka sudah sedikit banyak mampu untuk memilah dan menyaring permasalahan yang ada. Pada masa transisi inilah manusia terus mencoba berbagai hal yang belum pernah dilakukannya, rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap susuatu. Kalau mereka tidak memiliki iman yang kuat, maka tak ayal lagi ia bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat. Inilah yang harus diwaspadai oleh setiap inidividu dan para orang tua dalam mendidik anaknya. Proses ini juga—kita sering menyebutnya—sebagai proses pencarian jati diri. Entah apa yang di maksud dengan pencarian jati diri ini? Namun, kenyataan di masyarakat mereka yang memasuki usia ini, memang belum sepenuhnya memiliki tanggungjawab dan mampu bertanggungjawab. Keadaan selama masa kanak-kanak masih sangat berpengaruh besar terhadap pola pikir mereka. Tapi, mereka juga tak mau dikatakan anak kecil…! Repot juga. Disinilah orang tua harus bijak mengarahkan anak-anaknya.
Masa kanak-kanak dan remaja telah terlewati. Menujulah ia ke masa kedewasaan. Bagaimana seseorang dapat dikatakan dewasa? Apakah ia orang yang sudah berumahtangga dan mempunyai anak banyak? Apakah ia orang yang sudah berumur tua, tiga puluh atau empat puluh tahun ke atas? Ataukah mereka yang memiliki sederet gelar akademis dari berbagai universitas?
Sebenarnya saya sendiri pun tak dapat menjawab dengan pasti. Tapi menurut saya, kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dari berbagai kriteria yang disebutkan di atas. Dewasa tidak harus dia sudah berumahtangga dan memiliki banyak anak. Dewasa tidak harus orang yang sudah berumur. Dewasa tak harus orang yang memiliki sederet gelar akademis.
Dewasa adalah mereka yang mampu berpikir bijak, arif dan berpandangan ke depan. Ia mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsi dan porsinya masing-masing. Dewasa adalah mereka yang mampu memahami jalannya kehidupan ini. Karena manusia tidak hanya hidup, tapi mengarungi kehidupan. Dan mengarungi kehidupan lebih susah ketimbang hanya bertahan hidup. Mereka yang dewasa akan selalu memikirkan kehidupan ini, kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Serta kehidupan seluruh alam semesta dan lingkungan. Manusia yang berumur belum tentu dapat berpikir dewasa, bahkan kadang-kadang mereka bisa berbuat lebih tolol daripada mereka yang berada di bawahnya.
Kedewasaan tidaklah datang dengan sendirinya. Ia akan datang jika manusia mau memahami arti kehidupan ini. Mereka yang mau belajar dan belajar untuk memahami dan mengerti setiap kejadian yang menimpa dirinya, saya yakin kedewasaan sikap, pola pikir, tingkah laku, wawasan dan pengambilan keputusan akan ada pada pribadinya. Sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini mampu untuk menjadi dewasa? Sampai dimanakah kita bisa memaknai tiap kejadian yang menimpa kita? Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, memang sulit untuk bisa mencapai itu semua. Namun, sepanjang usia masih tersisa berusaha untuk mencapai kedewasaan itu adalah jalan terbaik. Semoga bermanfaat…!